PERATURAN PUISI

PERATURAN :

  1. Peserta maksimal 2 orang dari setiap sekolah.
  2. Peserta wajib hadir 30 menit sebelum acara dimulai
  3. Peserta diwajibkan daftar ulang.
  4. Pada saat berlombaan, jika sampai 3 kali dipanggil dan tidak hadir maka dinyatakan gugur
  5. Pada saat perlomaan dimulai, peserta harus menjaga ketenangan (tidak boleh berisik)
  6. Peserta harus siap membacakan 3 puisi untuk putaran pertama dan putaran kedua yang di sediakan oleh panitia.
  7. Pada Putaran Pertama Peserta Boleh Memilih Sendiri 3 Puisi yang telah disiapkan. sedangkan pada putaran kedua peserta tidak diperbolehkan memilih sendiri puisi, peserta harus siap dengan 3 puisi yang disiapkan pada putaran kedua.
  8. Peserta tidak boleh mengurangi atau menambahkan kata pada puisi yang telah disediakan.
  9. Peserta tidak boleh menggunakan alat pengiring dalam bentuk apapun (main sendiri atau dimainkan orang lain)
  10. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

KRITERIA PENILAIAN :

  1. Penghayatan
  2. Ekspresi / Mimik
  3. Vocal dan intonasi
  4. Totalitas dan keutuhan pembacaan puisi

Putaran Pertama :

  1. Bingkai karya Eonika Puspa Dahlia
  2. Bangkit karya Aqilla Fadia Wahono
  3. Sebatang Akar karya Adiyatma Prawara

 

Putaran Kedua :

  1. Orang – Orang Miskin karya W.S Rendra
  2. Karawang Bekasi karya Chairil Anwar
  3. Gugur karya W.S Rendra

==================================================
BINGKAI

Karya Eonika Puspa Dahlia

Awalnya
Kau seperti rumah tak bertuan
Ketika tiada tamu mengunjungi rumahmu
Rasanya seperti tiada yang menemani harimu

Kau tidak memiliki nilai
Ketika tidak ada kenangan mengisimu
Kau adalah persegi biasa
Tetapi, ketika kenangan melayang – layang mendekatimu
Namun ku tak bisa lagi bicara
Bahwa kau adalah persegi biasa
Kau adalah barang komplementer Ketika ada yang menemanimu

Ya, kau adalah bingkai
Bingkai dimana tempat menaruh foto
Kau menaruh jutaan kenangan dan kebahagian
Kau menghiburku ketika ombak rindu berendang dipikiranku

Namun kedasyatan ombak rinduku akan surut, ketika aku melihatmu Oh bingkai
Kau berhasil meredakan hujan turun dari mataku

Karya Adhiyatma Prawara
Sebatang Akar
Aku tak punya mahkota laykanya bunga
Warna ku pun tak menarik untuk disanjung atau dipuja
Aku terimbun di bawah tanah
Bagaikan bersembunyi karna tidak dianggap

Aku tak perlu menjadi daun atau pun bunga Karena aku yang mencari air untuk daun dan bunga Bahkan air itu untuk kelanggengan usia sang pohon Setiap hari kujalani tugas mulia berlapang dada

Aku ingin selalu berkedudukan tinggi
Harapan bergam pujian dalam setiap kehidupan Seperti daun saja sudah senang
Sebagai pendamping sang bunga

Hingga waktu ku tiba menua
Teman – temanku sudah berguguran kayu Sedikit demi sedikit
Hingga selesai sudah perjalanan dan pengorbanan hidupku
Cacian, hinaan, makian, dan cemoohan

=================================================

BANGKIT

Karya Aqilla Fadia Wahono

Telah menjadi teman paling setia dalam hidupku Tidak seperti kalian,
Yang bisanya hanya mengoreksi Dan tanpa pernah tahu cacat diri Jauh dari sudut sana,
Inginku teriakan pada kalian semua, bahwa aku Masih selalu ingin hidup dengan tenang
Hari ini dan seterusnya
Meski aku tahu itu tak mudah

Meski sesak aku masih bernafas Meski sempit aku masih bergerak Meski sulit aku masih bertahan Meski gelap aku masih berjalan, dan
Meski jauh aku masih dapat bangkit lagi

Ku tempuh tembok raksasa penghalang ini Keyakinan diiri menjadi tombak kehidupan Di dunia yang penuh sesak ini
Sampai suatu saat etrbaik nanti Akan ku tunjukan pada kalian
Yang telah menganggap diri sempurna Bahwa aku, dapat menjadi yang terbaika


==================================================

DAFTAR PUISI PUTARAN KEDUA :

ORANG-ORANG MISKIN

Karya : WS. Rendra

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin.
Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin.
Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

=================================================

KARAWANG - BEKASI

Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami Teruskan,
teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

=================================================

GUGUR

Karya W.S Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang
gemilang itu lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belum lagi selusin tindak mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya

ia berkata :
" Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.

Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."


Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu seorang cucuku